Senin, 31 Agustus 2015

Basmalah

RASULULLAH (s.a.w.) bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan
basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal
yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai
ujung, tidak ada tujuannya.Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak
mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah.
Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus;
amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.Menurut Syekh Jawad
Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal
itu akan berujung dengan hamdalah pula.
Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal
tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik
dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi’li. Yang
termasuk kriteria hasan al-fi’li misalnya adalah menolong orang lain,
membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan
itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi
pelakunya atau disebut hasan al-fâ’il. Orang yang melakukan suatu
perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan
niat yang ikhlas.
Pada Perang Shiffin, tentara ‘Amr bin Ash dan Mu’awiyah mendapatkan
kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij
menolaknya seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.”
Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian,
orang Khawarij marah dan berkata, “Mengapa harus membuat pengadilan,
karena semua hukum itu milik Allah.” Imam Ali lalu berkata, “Ucapan
orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan
yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.” Dalam
pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi
perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang
mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok
Mu’awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, “Orang-orang
Khawarij lebih baik daripada orang Mu’awiyah, karena orang Khawarij
adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih
baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada
orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu’awiyah.”
Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika
orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah,
berarti ia menisbahkan fâ’il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan
pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li
sekaligus menjadi hasan al-fâ’il.
Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fâ’il-nya tidak baik,
karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat
dikategorikan terputus atau batal.
Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fâ’il; masuk dan
keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan
amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia
dalam amal sehari-hari: 
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku
secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan
berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS.
Al-Isra 80).
Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian
itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada
Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu…
Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.
Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.
Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang
mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran:
تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS.Al-Rahmân 78). Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan.
Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan
sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: 
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikan nama Tuhanmu Yang
Maha Tinggi (QS. Al-A’la 1).
Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: 
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
Maka bertasbihlah dengan
menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda,
“Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Dan ketika turun
surat Al-A’la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi,
Rasulullah berkata, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.”
Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata
basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti
lafad kun yang diucapkan Allah. 
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Maksudnya, ketika Allah berkehendak
dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu.
(Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan "sama" dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.
Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar,
ia berkata, “Bismillâhi majrehâ wa mursâhâ” (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah.
Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan
nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya,
tetapi kehendak Allah.
Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap
perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah
mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat
membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang
berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan
melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi,
hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun.
Ucapan basmalahnya "sama" dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.
Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.

Minggu, 16 Agustus 2015

Hancurkan hatimu...!!!

Ahlak yang mulia terwujud saat orang lain merasa aman dan nyaman dengan kita. Sehingga mereka cinta dan bukan takut pada kita. Berakhlak mulia kepada Sang Pencipta adalah dengan menyibukkan diri melaksanakan semua yang wajib dan sunnah.
Semua itu dilaksanakan dengan kesadaran bahwa dia harus meminta maaf kepada Tuhan atas semua kekurangannya dalam beribadah. 
Beristigfar dan memohon ampun kepada-Nya atas ketaatan kita, dan bukan hanya atas kelalaiaan kita.
Hatinya berubah menjadi lautan yang bergejolak karena hembusan angin kedekatan dengan-Nya. Sifat-sifat mulia menelusuri lorong jiwanya. Luaskan hati, jangan sampai hati semakin menyempit. Luaskan hati, peluk dan tabur cinta kasih pada umat manusia. 
Seorang yang berhati luas tak akan khawatir dengan perbedaan. Hanya yang berhati sempit yang takut dan mengkhawatirkan perbedaan. 
Meluaskan hati dengan meninggalkan segala keinginan dan kerakusan nafs, serta mendidiknya untuk mengamalkan syariat dan tariqat.
Setelah nafs terbiasa dengan pelbagai kebaikan tersebut, maka pada dirinya kan muncul pelbagai akhlak mulia.
Ia telah meyandang kewalian, dan dirinya menjadi bak ayat-ayat Tuhan yang terbentang di cakrawala.
Setiap ucapan, gerak dan diamnya, mengingatkan kita pada Sang Pencipta. Inilah manusia yg telah menjadi "ayat min ayatillah".
Para wali adalah percikan rahasia dari khazanah rahasia Ilahi.
Mereka adalah madzhar, teater tempat munculnya keindahan, kelembutan, dan kasih sayang, yang pada akhirnya semua adalah milik-Nya.
Para wali bagaikan kabut yang membalik mata yang terbiasa dengan pandangan buruk dan rendah kepada sikap mulia dan luhur.
Imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad ra. mengatakan: "Inilah, aku telah ketahui tanpa ada keraguan sedikitpun.
Jalan yang benar terletak dalam meninggalkan segala kebiasaan, dan menanggalkan kesenangan diri, serta menghiasnya dengan budi pekerti.Dengannya aku selamat dari kalangan teman sejawatku dan lawanku,
Aku telah buktikan bahwa seluruh kebaikan terletak pada kesetiaanku mengikuti jejak kakekku al-Mustafā Hādi صلى الله عليه وسلم ".
Sungguh mereka adalah orang-orang yang suci dan disucikan. Setelah bersungguh-sungguh menghadap Tuhan, pintu kasih sayang-Nya terbuka luas untuk mereka.
Sepertinya sifat dan perangai kita begitu jauh dari para penyandang selimut kesempurnaan tersebut.
Dimana mereka, dimana kita. Namun, walau mungkin tak bisa mengikuti jejak dan mencapai kemuliaan mereka, minimal kita cinta.
Walaupun sifat dan sikap kita sangat jauh dari mereka, tetapi kita tetap senang dan gembira menyebut dan mengenang mereka. 
Saat mengingat orang shaleh, kita mengingat bagaimana mereka mencapai derajat yg tinggi dalam ilmu dan amal.
Saat mengenang kaum shaleh, hati kita hancur... kita ingat betapa kurang dan terbelakang diri kita. 
Saat bercermin dengan mereka, kita sadar betapa diri telah hancur lebur dalam kubangan dosa dan kelalaiaan. 
Di saat itu, hati ini hancur. Dan Tuhan berfirman dalam hadith Qudsi: 
"Anā ʿinda al-munkasirati qulūbuhum min ajlī". 
Aku bersama orang-orang  yang hatinya hancur karena-Ku.
Maka dengan hancurnya hati kita dalam mengenang kaum salihin, rahmat Ilahi turun kepada kita. 
Apakah nikmat yang lebih besar dari kebersamaan dengan-Nya. Maka hancurkan hatimu, biarkan Dia menjadi teman dudukmu. 
Semoga Tuhan mengembalikan kebaikan kepada kita semua, dengan keberkahan kaum shalihin.. para kekasih Ilahi. 
Semoga Tuhan menghancurkan hati-hati  kami yang membatu dan membeku, sehingga sentuhan cahaya dan seruan kelembutan-Nya dapat merasuki relungnya.

Jumat, 31 Juli 2015

Shalawat itu buah Cinta kepada Rasulullah dan ahlul bait...

-Buah Cinta Kepada Rasul dan Ahlul Bait-
Bentuk kecintaan kepada Nabi saw dan keluarganya diantaranya,
diwujudkan dengan membaca shalawat kepadanya.
Berikut hadis tentang buah shalawat kepada Nabi saw dan keluarganya. 
Seseorang bertanya kepada Imam Husein (Aba Abdillah)as. Tentang firman Allah swt, 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab 56). 
Aba Abdillah as berkata,” Shalawat dari Allah swt kepada Nabi adalah rahmat-Nya, dari malaikat adalah pensuciannya, dan dari manusia adalah doanya.” 
Adapun firman Allah swt wasallimû taslîmâ, yakni ucapkanlah salam kepadanya, kemudian mereka bertanya kepadanya, ”Bagaimana kami mengucapkan shalawat kepada Nabi dan keluarganya?” Aba Abdillah berkata,” Katakanlah: ‘Shalawâtullâhi wa shalawâtu malâ’ikatihî wa an biyâihî wa 
rasûlihî wa jamî’i khalqihî ’ala muhammadin wa âli muhammad wasallamu ‘alaihi wa âlihim wa rahmatulâh wa barakâtuh.’” Lalu ia berkata, ”Apa balasan orang yang membacakan shalawat kepada Nabi saw?”, 
“Dikeluarkan dari dosa-dosanya, demi Allah sama seperti ketika ibunya melahirkan dia.” 
Imam Ja’far Al-Shadiq as, berkata, ”Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sepuluh kali, Allah akan mengirimkan rahmat dan para malaikat akan mengucapkan doa kepadanya seratus kali.” Dalam hadis lain Imam Ja’far Al-Shadiq berkata,” Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya seratus kali, Allah akan kiirimkan kesejahteraan kepadanya, para malaikat akan mendoakannya seribu kali. Bukankah kamu mendengar perintah Allah swt, ”Ialah Allah yang mengirimkan rahmat-Nya kepada kamu dan para malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan dia sangat penyayang kepada kaum mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 43). 
Masih dari Imam Ja’far as, ”Semua do'a yang dibacakan orang untuk menyeru Allah swt tertutup dari langit, sampai dia membaca shalawat kepada Muhammmad dan keluarganya.” “Nanti pada hari kiamat, tidak ada yang lebih berat dalam timbangan selain shalawat kepada Muhammad dan 
keluarganya.” 
Imam Ali Ridha as, berkata, ”Barangsiapa yang tidak mampu menghapuskan seluruh dosanya, perbanyaklah bacaan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena itu akan menghapuskan dosa.” “Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi saw pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.” 
Itulah buah membaca shalawat. Shalawat adalah ungkapan kecintaan kita 
kepada Rasulullah dan keluarganya. Kalau orang banyak membaca shalawat, insya Allah, kecintaan kepada Rasulullah akan bertambah. 
Bagi seorang intelektual, hal ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan: Mengapa? Tapi, buat orang-orang "bodoh", believing is seeing. Shalawat itu membawa kecintaan kepada Rasulullah. Mereka tidak memikir-mikirkan lagi, kerinduannya bangkit di dalam shalawat-shalawat itu dan terasa pada diri mereka. Tetapi bagi orang-orang intelektual tidak; bagi mereka seeing is believing. 
Dalam teori komunikasi, ada teori yang disebut dengan mere-exposure theory; teori semata-mata terpaan saja.
Suatu saat kepada mahasiswa diperlihatkan beberapa transparansi foto. Ada beberapa foto yang sering tampak pada saat itu, dan ada beberapa foto yang jarang tampak. 
Foto itu ada yang ditampakkan sepuluh kali, delapan kali, dan lima kali. Setelah itu kepada mahasiswa diberikan seluruh foto yang tadi diperlihatkan di layar. Ada hal yang menarik dalam kejadiaan itu; mereka diperintah untuk memilih foto mana yang paling mereka sukai. 
Ternyata mereka menyukai foto yang paling sering muncul.; bukan karena apa-apa, hanya karena sering muncul saja, mere-exposure. Hal ini bisa dianalogikan, jika ada orang yang sering muncul dihadapan kita, lama-kelamaan kita akan menyukai orang tersebut. 
Dengan seringnya kita membaca shalawat, kita selalu menghadirkan namaRasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya akan tumbuh dengan sendirinya kecintaan kepada orang-orang yang sering kita sebut. Dan hal ini termasuk juga ke dalam teknik iklan atau propaganda. Agar orang itu suka akan sesuatu, lakukanlah iklan itu berkali-kali (diulang-ulang). Sampai-sampai Hitler berkata, ”Kebohongan pun akan dipercaya menjadi keimanan kalau kita mengulanginya terus menerus. 
Wehreit, "kebenaran itu adalah kebohongan dikalikan seribu.” 
Kalau kebohongan saja bisa menjadi kebenaran, apa lagi kata-kata suci seperti shalawat yang sering kita bacakan. Shalawat, insya Allah akan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Lewat kecintaan itulah 
insya Allah kita akan meniru perilaku orang yang kita cintai. 
Kecintaan kita kepada keluarga Rasulullah saw, merupakan ungkapan cinta kepada Rasulullah juga. Al-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasyaf, 
menulis, ”Rasulullah saw. bersabda: ’Barangsiapa yang mati dengan kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia mati syahid. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, 
dia mati dengan ampunan-Nya. Ketahuilah barangsiapa yang mati dalam kecintaan kepada keluarga Nabi saw, dia mati sebagai orang mukmin yang sempurna imannya. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa
kecintaan kepada keluarga Nabi saw, dia mati dalam keadaan Malaikat Maut akan menggembirakannya dengan surga, kemudian Munkar dan Nakir akan menghiburnya. 
"Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia akan diiringkan masuk ke surga seperti diiringkannya pengantin ke rumah suaminya. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, Allah akan bukakan pintu surga pada kuburannya. Ketahuilah, 
barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, Allah akan jadikan kuburannya tempat berkunjung Malaikat Rahmat. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa 
kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia mati sebagai ahlus sunnah wal jama’ah.” 
“Siapa yang mati dalam kebencian kepada keluarga Muhammad saw, dia akan datang pada hari kiamat dengan tulisan diantara kedua matanya; 
"Inilah orang yang putus asa dari rahmat Allah". 
Wallahu a'lam bishawwab 

Rabu, 22 Juli 2015

Wasiat awal Syawal 1436H

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. Al-Najm [53]: 32)
Demikian pula sesuai dengan sabda Nabi, “Siapa yang mengkafirkan seorang mukmin, maka sungguh dia sendiri sudah kafir.”
Dalam menghadapi kesalahfahaman yang mungkin timbul dengan non-Muslim saja, Islam menyuruh kita untuk ber-jidal (baca: dialog) dengan cara terbaik seperti dalam ayat berikut:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

Jumat, 03 Juli 2015

Hanya...............

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Wa iyyaka nasta’in artinya “kepadaMu kami memohon pertolongan sebelumnya kita mengatakan, “kepadaMu kami menyembah.” Mengapa kita memohon pertolongan setelah kita beribadah? Bukankah sebaiknya kita memohon pertolongan dulu sebelum melakukan ibadah? 
Seolah-olah orang yang shalat itu berkata, “aku memulai ibadah ini, dan aku memohon pertolongan kepada Allah untuk menyempurnakan ibadahku. Sehingga kesempurnaan ibadah itu tidak terganggu karena kematian, sakit atau karena hati yang lalai.” Kami beribadah, dan kami memohon  kepadaMu agar menyempurnakan ibadah kami, sehingga kesempurnaan ibadah kami tidak terganggu. Karena itu, setelah iyyaka nasta’in.
Seakan-akan ketika manusia mengatakan iyyaka na’budu , dalam hatinya ia berkata, “Tuhanku, aku datang kepadaMu dengan membawa hati yang tidak ikut bersamaku; aku datang kepadamu, tapi hatiku lari darimu. Maka aku memohon kepadaMu agar Engkau menghadirkan hatiku dalam ibadah ini. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa hati seorang mukmin terletak di antara jari jemari Tuhan (maksudnya, bahwa hati manusia itu mudah sekali berubah dan hanya Tuhanlah yang bisa meneguhkan hati). Karena itu kita berkata, "aku beribadah kepadaMu, ya Allah, dan aku memohon tolong agar Engkau menghadirkan hati kami dalam ibadah kami. Bukankah hati kami terletak di antara jari jemariMu." Aku tidak memohonkan pertolongan kepada selainMu. Tidak kepada Jibril alaihi salaam, tidak kepada Mikail alaihi salaam. Aku hanya meminta pertolongan kepadaMu saja. Dalam hal ini aku mengikuti mazhab Ibrahim alaihi salaam. Ketika beliau akan dilemparkan ke dalam api, Namruz mengikat kedua kaki dan tanganya, lalu melemparkanya ke dalam api. Jibril as. datang dan berkata, “apakah engkau memerlukan bantuanku?” Ibrahim menjawab, “aku tidak memerlukan bantuanmu. Cukuplah bagiku untuk tidak menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Karena aku tahu bahwa Tuhan mengetahui keadaanku.” Tapi sebagai pengikut Nabi Ibrahim alaihi salaam, kita menambah kalimat lagi pada ucapan beliau itu. Kalau beliau diikat kedua kaki dan tanganya oleh Namruz, maka dalam shalat kita, kita mengikat kaki kita sehingga kita tidak berjalan; mengikat mata kita sehingga kita tidak "melihat" ; mengikat telinga kita sehingga kita tidak "mendengar" dan mengikat lidah kita sehingga kita tidak berbicara. Semuanya kita hadapkan kepada Allah Jallajalaaluh. Dengan suka rela. Ibrahim alaihi salaam diikat dengan terpaksa oleh Namruz, kita mengikat diri kita dalam shalat secara suka rela dan hanya tunduk kepada Allah Jallajalaaluh. Kalau Ibrahim alaihi salaam dihadapkan ke api Namruz, kita dihadapkan ke api Jahannam. Kalau Ibrahim alaihi salaam tidak ridha menerima bantuan selain dari Tuhan, maka kita pun tidak ridha meminta bantuan kepada siapa pun kecuali kepada Allah Jallajalaaluh saja. Sebagaimana Allah berkata kepada api yang membakar Ibrahim, “ya naru kuni bardan wa salaaman alaa Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’,21;69), kita juga berharap agar Allah berkata kepada api Jahannam sehingga neraka itu berkata, “lewatlah hai orang beriman. Cahayamu telah mematikan nyala apiku.”
Iyyaka nasta’in, artinya “aku tidak meminta tolong selain kepadaMu, karena selainMu tidak akan sanggup memberikan pertolongan kepadaku. Kalaupun ada orang yang menolongku, pertolonganya itu juga karena pertolonganMu.” Kalau ada orang yang membela kita, itu sebetulnya karena pertolongan Allah Jallajalaaluh wa Ta'ala Adzhamatuh.
Ketika kita mengucapkan iyyaka na’budu, boleh jadi dalam hati kita telah terbit satu perasaan bahwa kita sudah mampu beribadah kepada Allah Subhana wa Ta'ala, orang menyebutnya ‘ujub, merasa bangga karena kita sudah beribadah kepada Allah Jallajalaaluh. Kita lupa bahwa ibadah kita terjadi karena bantuan Allah. Oleh sebab itu, setelah mengatakan iyyaka na’budu, buru-burulah mengatakan iyyaka nasta’in, kepadaMu lah kami meminta pertolongan, dengan begitu, kita menghilangkan 'ujub dari dalam hati kita.
Wallahu 'alam.

Jumat, 05 Juni 2015

Do'a sebelum tidur

Nabi Muhammad  shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita doa yang dibaca saat meletakkan kepala di tempat tidur.

بِاسْمِكَ اللّٰهُمَّ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهْ، إِنْ أَمْسَكْتَ 

نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا،

 وَإِنْ رَدَدْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِـهِ 

 عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

Ya Allah, dengan nama-Mu kuletakkan tubuhku ini, dengan pertolongan-Mu aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku ini, berikanlah rahmat-Mu, kalau Engkau membiarkan hidup, peliharalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh.
(HR al-Bukhari dan Muslim) 

Jumat, 06 Maret 2015

Cahaya

Dia-lah Allah Jallajalaaluh sumber cahaya. Cahaya di atas cahaya. Sumber kasih sayang, kelembutan, dan keindahan baik lahiriyah maupun batiniyah.
Dan cahaya-Nya menerangi kekasih-Nya Muhammad sallalahu alaihi wasallam. Sang Kekasih  صلى الله عليه وسلم  adalah pemegang cahaya Ilahi di muka bumi.
Maka melalui cahaya beliau 
 صلى الله عليه وسلم keluarga dan sahabatnya mendapatkan sentuhan cahaya. Mereka berpijar di seantero alam.
Para wali dan ulama yang shaleh mendapatkan sentuhan pijaran cahaya tersebut. Cahaya Sang Kekasih  صلى الله عليه وسلم menerangi semesta.
Hingga ke tempat kita, cahayanya tetap bersinar, karena dibawa dan dipercikan oleh para pemilik cahaya sesungguhnya. 
Hanya mereka yang telah terhubung dengan para pemilik cahaya sebelumnya yang dapat menjadi pemilik cahaya. Merekalah para kekasih, cintailah mereka niscaya kita nantinya akan dikumpulkan dengan para kekasih-Nya. Semoga.