إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Wa iyyaka nasta’in artinya “kepadaMu kami memohon pertolongan sebelumnya kita mengatakan, “kepadaMu kami menyembah.” Mengapa kita memohon pertolongan setelah kita beribadah? Bukankah sebaiknya kita memohon pertolongan dulu sebelum melakukan ibadah?
Seolah-olah orang yang shalat itu berkata, “aku memulai ibadah ini, dan aku memohon pertolongan kepada Allah untuk menyempurnakan ibadahku. Sehingga kesempurnaan ibadah itu tidak terganggu karena kematian, sakit atau karena hati yang lalai.” Kami beribadah, dan kami memohon kepadaMu agar menyempurnakan ibadah kami, sehingga kesempurnaan ibadah kami tidak terganggu. Karena itu, setelah iyyaka nasta’in.
Seakan-akan ketika manusia mengatakan iyyaka na’budu , dalam hatinya ia berkata, “Tuhanku, aku datang kepadaMu dengan membawa hati yang tidak ikut bersamaku; aku datang kepadamu, tapi hatiku lari darimu. Maka aku memohon kepadaMu agar Engkau menghadirkan hatiku dalam ibadah ini. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa hati seorang mukmin terletak di antara jari jemari Tuhan (maksudnya, bahwa hati manusia itu mudah sekali berubah dan hanya Tuhanlah yang bisa meneguhkan hati). Karena itu kita berkata, "aku beribadah kepadaMu, ya Allah, dan aku memohon tolong agar Engkau menghadirkan hati kami dalam ibadah kami. Bukankah hati kami terletak di antara jari jemariMu." Aku tidak memohonkan pertolongan kepada selainMu. Tidak kepada Jibril alaihi salaam, tidak kepada Mikail alaihi salaam. Aku hanya meminta pertolongan kepadaMu saja. Dalam hal ini aku mengikuti mazhab Ibrahim alaihi salaam. Ketika beliau akan dilemparkan ke dalam api, Namruz mengikat kedua kaki dan tanganya, lalu melemparkanya ke dalam api. Jibril as. datang dan berkata, “apakah engkau memerlukan bantuanku?” Ibrahim menjawab, “aku tidak memerlukan bantuanmu. Cukuplah bagiku untuk tidak menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Karena aku tahu bahwa Tuhan mengetahui keadaanku.” Tapi sebagai pengikut Nabi Ibrahim alaihi salaam, kita menambah kalimat lagi pada ucapan beliau itu. Kalau beliau diikat kedua kaki dan tanganya oleh Namruz, maka dalam shalat kita, kita mengikat kaki kita sehingga kita tidak berjalan; mengikat mata kita sehingga kita tidak "melihat" ; mengikat telinga kita sehingga kita tidak "mendengar" dan mengikat lidah kita sehingga kita tidak berbicara. Semuanya kita hadapkan kepada Allah Jallajalaaluh. Dengan suka rela. Ibrahim alaihi salaam diikat dengan terpaksa oleh Namruz, kita mengikat diri kita dalam shalat secara suka rela dan hanya tunduk kepada Allah Jallajalaaluh. Kalau Ibrahim alaihi salaam dihadapkan ke api Namruz, kita dihadapkan ke api Jahannam. Kalau Ibrahim alaihi salaam tidak ridha menerima bantuan selain dari Tuhan, maka kita pun tidak ridha meminta bantuan kepada siapa pun kecuali kepada Allah Jallajalaaluh saja. Sebagaimana Allah berkata kepada api yang membakar Ibrahim, “ya naru kuni bardan wa salaaman alaa Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’,21;69), kita juga berharap agar Allah berkata kepada api Jahannam sehingga neraka itu berkata, “lewatlah hai orang beriman. Cahayamu telah mematikan nyala apiku.”
Iyyaka nasta’in, artinya “aku tidak meminta tolong selain kepadaMu, karena selainMu tidak akan sanggup memberikan pertolongan kepadaku. Kalaupun ada orang yang menolongku, pertolonganya itu juga karena pertolonganMu.” Kalau ada orang yang membela kita, itu sebetulnya karena pertolongan Allah Jallajalaaluh wa Ta'ala Adzhamatuh.
Ketika kita mengucapkan iyyaka na’budu, boleh jadi dalam hati kita telah terbit satu perasaan bahwa kita sudah mampu beribadah kepada Allah Subhana wa Ta'ala, orang menyebutnya ‘ujub, merasa bangga karena kita sudah beribadah kepada Allah Jallajalaaluh. Kita lupa bahwa ibadah kita terjadi karena bantuan Allah. Oleh sebab itu, setelah mengatakan iyyaka na’budu, buru-burulah mengatakan iyyaka nasta’in, kepadaMu lah kami meminta pertolongan, dengan begitu, kita menghilangkan 'ujub dari dalam hati kita.
Wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar