Senin, 31 Agustus 2015

Basmalah

RASULULLAH (s.a.w.) bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan
basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal
yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai
ujung, tidak ada tujuannya.Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak
mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah.
Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus;
amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.Menurut Syekh Jawad
Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal
itu akan berujung dengan hamdalah pula.
Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal
tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik
dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi’li. Yang
termasuk kriteria hasan al-fi’li misalnya adalah menolong orang lain,
membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan
itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi
pelakunya atau disebut hasan al-fâ’il. Orang yang melakukan suatu
perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan
niat yang ikhlas.
Pada Perang Shiffin, tentara ‘Amr bin Ash dan Mu’awiyah mendapatkan
kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij
menolaknya seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.”
Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian,
orang Khawarij marah dan berkata, “Mengapa harus membuat pengadilan,
karena semua hukum itu milik Allah.” Imam Ali lalu berkata, “Ucapan
orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan
yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.” Dalam
pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi
perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang
mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok
Mu’awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, “Orang-orang
Khawarij lebih baik daripada orang Mu’awiyah, karena orang Khawarij
adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih
baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada
orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu’awiyah.”
Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika
orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah,
berarti ia menisbahkan fâ’il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan
pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li
sekaligus menjadi hasan al-fâ’il.
Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fâ’il-nya tidak baik,
karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat
dikategorikan terputus atau batal.
Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fâ’il; masuk dan
keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan
amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia
dalam amal sehari-hari: 
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku
secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan
berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS.
Al-Isra 80).
Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian
itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada
Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu…
Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.
Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.
Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang
mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran:
تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS.Al-Rahmân 78). Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan.
Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan
sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: 
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikan nama Tuhanmu Yang
Maha Tinggi (QS. Al-A’la 1).
Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: 
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
Maka bertasbihlah dengan
menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda,
“Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Dan ketika turun
surat Al-A’la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi,
Rasulullah berkata, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.”
Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata
basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti
lafad kun yang diucapkan Allah. 
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Maksudnya, ketika Allah berkehendak
dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu.
(Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan "sama" dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.
Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar,
ia berkata, “Bismillâhi majrehâ wa mursâhâ” (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah.
Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan
nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya,
tetapi kehendak Allah.
Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap
perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah
mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat
membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang
berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan
melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi,
hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun.
Ucapan basmalahnya "sama" dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.
Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.

Minggu, 16 Agustus 2015

Hancurkan hatimu...!!!

Ahlak yang mulia terwujud saat orang lain merasa aman dan nyaman dengan kita. Sehingga mereka cinta dan bukan takut pada kita. Berakhlak mulia kepada Sang Pencipta adalah dengan menyibukkan diri melaksanakan semua yang wajib dan sunnah.
Semua itu dilaksanakan dengan kesadaran bahwa dia harus meminta maaf kepada Tuhan atas semua kekurangannya dalam beribadah. 
Beristigfar dan memohon ampun kepada-Nya atas ketaatan kita, dan bukan hanya atas kelalaiaan kita.
Hatinya berubah menjadi lautan yang bergejolak karena hembusan angin kedekatan dengan-Nya. Sifat-sifat mulia menelusuri lorong jiwanya. Luaskan hati, jangan sampai hati semakin menyempit. Luaskan hati, peluk dan tabur cinta kasih pada umat manusia. 
Seorang yang berhati luas tak akan khawatir dengan perbedaan. Hanya yang berhati sempit yang takut dan mengkhawatirkan perbedaan. 
Meluaskan hati dengan meninggalkan segala keinginan dan kerakusan nafs, serta mendidiknya untuk mengamalkan syariat dan tariqat.
Setelah nafs terbiasa dengan pelbagai kebaikan tersebut, maka pada dirinya kan muncul pelbagai akhlak mulia.
Ia telah meyandang kewalian, dan dirinya menjadi bak ayat-ayat Tuhan yang terbentang di cakrawala.
Setiap ucapan, gerak dan diamnya, mengingatkan kita pada Sang Pencipta. Inilah manusia yg telah menjadi "ayat min ayatillah".
Para wali adalah percikan rahasia dari khazanah rahasia Ilahi.
Mereka adalah madzhar, teater tempat munculnya keindahan, kelembutan, dan kasih sayang, yang pada akhirnya semua adalah milik-Nya.
Para wali bagaikan kabut yang membalik mata yang terbiasa dengan pandangan buruk dan rendah kepada sikap mulia dan luhur.
Imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad ra. mengatakan: "Inilah, aku telah ketahui tanpa ada keraguan sedikitpun.
Jalan yang benar terletak dalam meninggalkan segala kebiasaan, dan menanggalkan kesenangan diri, serta menghiasnya dengan budi pekerti.Dengannya aku selamat dari kalangan teman sejawatku dan lawanku,
Aku telah buktikan bahwa seluruh kebaikan terletak pada kesetiaanku mengikuti jejak kakekku al-Mustafā Hādi صلى الله عليه وسلم ".
Sungguh mereka adalah orang-orang yang suci dan disucikan. Setelah bersungguh-sungguh menghadap Tuhan, pintu kasih sayang-Nya terbuka luas untuk mereka.
Sepertinya sifat dan perangai kita begitu jauh dari para penyandang selimut kesempurnaan tersebut.
Dimana mereka, dimana kita. Namun, walau mungkin tak bisa mengikuti jejak dan mencapai kemuliaan mereka, minimal kita cinta.
Walaupun sifat dan sikap kita sangat jauh dari mereka, tetapi kita tetap senang dan gembira menyebut dan mengenang mereka. 
Saat mengingat orang shaleh, kita mengingat bagaimana mereka mencapai derajat yg tinggi dalam ilmu dan amal.
Saat mengenang kaum shaleh, hati kita hancur... kita ingat betapa kurang dan terbelakang diri kita. 
Saat bercermin dengan mereka, kita sadar betapa diri telah hancur lebur dalam kubangan dosa dan kelalaiaan. 
Di saat itu, hati ini hancur. Dan Tuhan berfirman dalam hadith Qudsi: 
"Anā ʿinda al-munkasirati qulūbuhum min ajlī". 
Aku bersama orang-orang  yang hatinya hancur karena-Ku.
Maka dengan hancurnya hati kita dalam mengenang kaum salihin, rahmat Ilahi turun kepada kita. 
Apakah nikmat yang lebih besar dari kebersamaan dengan-Nya. Maka hancurkan hatimu, biarkan Dia menjadi teman dudukmu. 
Semoga Tuhan mengembalikan kebaikan kepada kita semua, dengan keberkahan kaum shalihin.. para kekasih Ilahi. 
Semoga Tuhan menghancurkan hati-hati  kami yang membatu dan membeku, sehingga sentuhan cahaya dan seruan kelembutan-Nya dapat merasuki relungnya.