Minggu, 16 Agustus 2015

Hancurkan hatimu...!!!

Ahlak yang mulia terwujud saat orang lain merasa aman dan nyaman dengan kita. Sehingga mereka cinta dan bukan takut pada kita. Berakhlak mulia kepada Sang Pencipta adalah dengan menyibukkan diri melaksanakan semua yang wajib dan sunnah.
Semua itu dilaksanakan dengan kesadaran bahwa dia harus meminta maaf kepada Tuhan atas semua kekurangannya dalam beribadah. 
Beristigfar dan memohon ampun kepada-Nya atas ketaatan kita, dan bukan hanya atas kelalaiaan kita.
Hatinya berubah menjadi lautan yang bergejolak karena hembusan angin kedekatan dengan-Nya. Sifat-sifat mulia menelusuri lorong jiwanya. Luaskan hati, jangan sampai hati semakin menyempit. Luaskan hati, peluk dan tabur cinta kasih pada umat manusia. 
Seorang yang berhati luas tak akan khawatir dengan perbedaan. Hanya yang berhati sempit yang takut dan mengkhawatirkan perbedaan. 
Meluaskan hati dengan meninggalkan segala keinginan dan kerakusan nafs, serta mendidiknya untuk mengamalkan syariat dan tariqat.
Setelah nafs terbiasa dengan pelbagai kebaikan tersebut, maka pada dirinya kan muncul pelbagai akhlak mulia.
Ia telah meyandang kewalian, dan dirinya menjadi bak ayat-ayat Tuhan yang terbentang di cakrawala.
Setiap ucapan, gerak dan diamnya, mengingatkan kita pada Sang Pencipta. Inilah manusia yg telah menjadi "ayat min ayatillah".
Para wali adalah percikan rahasia dari khazanah rahasia Ilahi.
Mereka adalah madzhar, teater tempat munculnya keindahan, kelembutan, dan kasih sayang, yang pada akhirnya semua adalah milik-Nya.
Para wali bagaikan kabut yang membalik mata yang terbiasa dengan pandangan buruk dan rendah kepada sikap mulia dan luhur.
Imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad ra. mengatakan: "Inilah, aku telah ketahui tanpa ada keraguan sedikitpun.
Jalan yang benar terletak dalam meninggalkan segala kebiasaan, dan menanggalkan kesenangan diri, serta menghiasnya dengan budi pekerti.Dengannya aku selamat dari kalangan teman sejawatku dan lawanku,
Aku telah buktikan bahwa seluruh kebaikan terletak pada kesetiaanku mengikuti jejak kakekku al-Mustafā Hādi صلى الله عليه وسلم ".
Sungguh mereka adalah orang-orang yang suci dan disucikan. Setelah bersungguh-sungguh menghadap Tuhan, pintu kasih sayang-Nya terbuka luas untuk mereka.
Sepertinya sifat dan perangai kita begitu jauh dari para penyandang selimut kesempurnaan tersebut.
Dimana mereka, dimana kita. Namun, walau mungkin tak bisa mengikuti jejak dan mencapai kemuliaan mereka, minimal kita cinta.
Walaupun sifat dan sikap kita sangat jauh dari mereka, tetapi kita tetap senang dan gembira menyebut dan mengenang mereka. 
Saat mengingat orang shaleh, kita mengingat bagaimana mereka mencapai derajat yg tinggi dalam ilmu dan amal.
Saat mengenang kaum shaleh, hati kita hancur... kita ingat betapa kurang dan terbelakang diri kita. 
Saat bercermin dengan mereka, kita sadar betapa diri telah hancur lebur dalam kubangan dosa dan kelalaiaan. 
Di saat itu, hati ini hancur. Dan Tuhan berfirman dalam hadith Qudsi: 
"Anā ʿinda al-munkasirati qulūbuhum min ajlī". 
Aku bersama orang-orang  yang hatinya hancur karena-Ku.
Maka dengan hancurnya hati kita dalam mengenang kaum salihin, rahmat Ilahi turun kepada kita. 
Apakah nikmat yang lebih besar dari kebersamaan dengan-Nya. Maka hancurkan hatimu, biarkan Dia menjadi teman dudukmu. 
Semoga Tuhan mengembalikan kebaikan kepada kita semua, dengan keberkahan kaum shalihin.. para kekasih Ilahi. 
Semoga Tuhan menghancurkan hati-hati  kami yang membatu dan membeku, sehingga sentuhan cahaya dan seruan kelembutan-Nya dapat merasuki relungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar