Selasa, 24 Februari 2015

Syukur dan Sabar

Pada zaman khalifah al-Manshur, salah seorang menterinya, Al-Ashma’i, melakukan perburuan. Karena keasyikan mengejar buruannya, ia terpisah dari kelompoknya. Ia tersesat dalam padang sahara.

Ketika rasa haus mencekamnya, dalam kejauhan ia melihat sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya ke arah sana dan menemukan penghuni yang memukau: perempuan muda dan jelita. Ia meminta air. Perempuan itu berkata, “Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku. Kalau engkau mau, ambillah.”

Tiba-tiba wajah perempuan itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. “Suamiku datang,” katanya. Wanita itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih.

Lelaki yang datang itu lebih mudah disebut bekas manusia. Seorang tua yang jelek dan menakutkan. Mulutnya tidak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat, dam menuntunnya dengan mesra masuk ke kemahnya.

Sebelum pergi, Al-Ashma’i bertanya, “Engkau muda, cantik, dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk.”

Jawaban perempuan itu mengejutkan, “Rasulullah Muhammad
shallallahu alaihi wassallam bersabda, agama itu terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Ia membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar.” 


Kamis, 19 Februari 2015

Sedekah Imam Ali Karamallahuwajhah, yang diabadikan Allah dalam Al-Quran

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

"Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk (tunduk menjunjung perintah Allah)."
Subhanallah pujian Allah untuk seorang 
Imam Ali Karamallahuwajhah dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, seraya tunduk kepada Allah.” (QS. Al- Mâ’idah [5]: 55)
Seorang sahabat Nabi terkemuka, Jundab ibn Junadah (dikenal dengan nama Abu Dzarr Al-Ghiffariy ra.),
berkata: “Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasulullah  صلى الله عليه وسلم  tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang memberikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul  صلى الله عليه وسلم , tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Imam Ali karamallahuwajhah sedang mengerjakan rukuk. Kemudian, dia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi  صلى الله عليه وسلم ,
lalu Nabi  صلى الله عليه وسلم berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya saudaraku, Musa a.s. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memfahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Harun. Kukuhkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’” (QS. Thâ’ Hâ’ [20]: 25- 32)
“Ketika itu Engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kukuhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin,’ (QS. Al- Qashash [28]: 35). ‘Ya Allah, aku ini adalah Muhammad Nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kukuhkanlah punggungku dengannya.’”
Abu Dzar ra, melanjutkan: “Demi Allah, Jibril as. turun kepadanya sebelum sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: "Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ....’”
Seorang penyair tersohor, Hassân ibn Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:
“Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin, sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.”

Selasa, 17 Februari 2015

Ya Shamad

Ya Shamad
Ya Allah   Ya Ahad,  Ya Shamad, kepada-Mu bertumpu segala cita, di sisi-Mu berakhir segala doa dan pinta. Ya Allah anugerahkanlah kepada kami bagian yang banyak dari anugerah-Mu yang melimpah. Ya Allah apa yang tidak terjangkau oleh pengetahuanku, apa yang lemah dilakukan oleh dayaku, apa yang tidak dicapai oleh niatku dan citaku, yang merupakan kebajikan yang Engkau janjikan kepada salah satu makhluk-Mu atau kebajikan yang Engkau anugerahkan pada salah seorang hamba-Mu, maka Ya Allah kami pun mengarahkan harapan kami kepada-Mu untuk kebajikan itu dan Ya Allah arahkanlah langkah kami guna meraihnya. Wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah perlakukanlah kami, di dunia dan di akhirat sesuai dengan sifat-sifat-Mu yang Agung, jangan perlakukan kami -wahai Tuhan kami- sesuai dengan sifat dan kelakuan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyantun, Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, Maha Lembut lagi Maha Pengasih. Wa Shallallahu 'Alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa Aalihi wa shahbihi wa sallam.

Minggu, 15 Februari 2015

Dzikr... Allahu Allahu Allahu.....

Seakan sakitmu tiada obat,
tertindas tak berdaya melawan, 
gelisah bingungmu tidak terjawab, 
sengsara miskinmu tak temui jalan, 
gulita gelap hatimu tiada cahaya, 
sebatangkara sendirimu tak terhubung apapun jua, nestapa sedihmu seperti tidak berpintu.
Bila itu rasamu sahabat, 
maka jenguklah sukmamu 
manjakan kalbumu, gumamkan nama Tuhanmu dan kenalilah semesta dirimu.... Insya Allah semua akan sirna. 

Rabu, 11 Februari 2015

Renungan Fajr

Kehidupan ini selalu bergulir tiada kenal henti, kerling mata sang waktu mampu mengubah umat manusia, yang tadinya jahat menjadi berbudi, yang paginya beriman sorenya kafir, yang siangnya bertahtakan amal shalih, mendadak malamnya ia habiskan dalam pelukan hangat maksiat. Ada pula waktu mudanya lidahnya kelu dari ucapan dusta, dimasa tuanya lisannya begitu fasih mengolah kalimat tipu muslihat. Ada pula manusia yang waktu bujangnya berpenampilan apa adanya, ketika sudah berumah tangga ia menjadi pesolek, ia pintar membungkus kebohongan, lihai menyembunyikan watak dan niat jahatnya, jubah dan jenggotnya semakin memperteguh kemunafikannya, jilbab dan cadarnya melengkapi penyamarannya. Ada juga yang terang-terangan tanpa malu memproklamirkan kemunkaran, bahkan mengajak teman-temannya untuk ikut menikmati cawan-cawan kesesatan yang dimatanya nampak seperti anggur yang memabukkan.
Mari kita renungkan kalam sayyidina Ali Karramallahu Wajhah :
Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan.
Ada orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.
Ada yang berlisan fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu` namun sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombong iblis, ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan, ada juga penzina yang tampil sebagai figur panutan.
Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham ilmu tapi tidak mengamalkannya.
Ada yang pintar tapi tukang membodohi umat, ada yang bodoh malah sok pintar.
Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tidak bertuhan.
Lalu di antara semua itu, di mana aku berada ?

Tentang Wirdul-Latif

Wirdul-Latif
Zikir Pagi Dan Petang
Susunan
Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alwi Al-Hadad
Wirdul-Latif adalah satu dari susunan wirid dan zikir oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Selalunya ia dibaca berseorangan pada waktu pagi dan petang. Seperti karangannya yang lain, Imam Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadith.
Dengan cara tulisannya yang mudah difahami, pendek dan tepat, beliau menyusun ayat- ayat Al-Quran dan Hadith untuk berzikir kebesaran dan kelebihan Allah. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid ringan) sebab mudah dibaca dan senang dirasakan di hati kita. Juga sebab ia tidak begitu panjang seperti wirid yang besarnya, yaitu Wirdul-Kabir.
Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah seperti yang dianjurkan oleh pengikut- pengikut, murid-murid dan muslimin di negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim - Hadhramaut di negara Yaman.
Imam Alawi bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad, anak kepada cucu beliau telah menyusunkan wirid ini dengan mengurangkan jumlah bacaan tasbih and tahmeed. Perulangan tasbih dan tahmeed dikurangkan kepada tiga dan ditambah satu ayat untuk gantinya. Baginda mengikut arahan Allah seperti di Surah 2 Al-Baqarah Ayat 286: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya.”
Diriwayatkan daripada Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w telah masuk ke masjid dan baginda mendapati ada seutas tali yang direntangkan di antara dua tiang, lalu baginda bertanya: “Tali apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Tali itu digunakan oleh Zainab untuk sembahyang, apabila dia merasa malas atau keletihan dia akan berpegang pada tali tersebut.” Rasulullah s.a.w bersabda lagi, “Lepaskan ikatan tali tersebut, seseorang dari kamu hendaklah bersembahyang dengan keupayaan yang ada pada dirinya, apabila dia malas atau letih maka hendaklah dia berhenti.” Zainab adalah seorang yang kukuh imannya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Zainab r.a. jikalau ia mahu belajar satu zikir yang berpahala serupa dengan membaca bilangan zikir-zikir ini. Dan Baginda pun berkata, “tambahkan kalimah ‘seberapa banyak ciptaan Nya’ kepada setiap tasbih, taslim and tahmeed”.
Sudah tentulah lebih baik kalau kita ada waktu dan tenaga untuk membaca wirid ini dengan sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan memberi kita taufiq dan hidayat dan merahmati Al-Habib kita serta memimpin kita ke jalan yang benar.




Bacaan Surah Sebelum Tidur


Diriwayatkan dari Aisyah : setiap kali Rasulullah Saw hendak tidur (malam hari) Nabi Saw menangkupkan kedua tangannya dan meniupnya setelah membaca Surah Al Ikhlas, Al Falaq dan Al Nas, lalu mengusapkannya ke seluruh bagian tubuhnya. dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Nabi Saw melakukannya tiga kali.

Intro

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
(QS.Al-An'am [6]:32)
Dlm penjelasan ayat ini ada sabda Rasulullah SAW yaitu : "akan datang suatu zaman atas manusia, perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka, perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka, Dinar-dinar mereka menjadi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. Waktu itu, tidak tersisa iman sedikitpun kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikitpun kecuali upacara-upacaranya saja. Tidak tersisa Al-Qur'an sedikitpun kecuali pelajarannya saja. Masjid-masjid mereka makmur dan damai akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling  buruk di permukaan bumi. Kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana (al-bala'): kekejaman para penguasa, kekeringan masa, dan kekejaman para pejabat serta pengambil keputusan." maka takjublah para sahabat mendengar pembicaraan Nabi, mereka bertanya ,"ya Rasulullah, apakah mereka menyembah berhala? Nabi menjawab ,"ya, bagi mereka, setiap serpihan dan kepingan uang menjadi berhala,"