Jumat, 31 Juli 2015

Shalawat itu buah Cinta kepada Rasulullah dan ahlul bait...

-Buah Cinta Kepada Rasul dan Ahlul Bait-
Bentuk kecintaan kepada Nabi saw dan keluarganya diantaranya,
diwujudkan dengan membaca shalawat kepadanya.
Berikut hadis tentang buah shalawat kepada Nabi saw dan keluarganya. 
Seseorang bertanya kepada Imam Husein (Aba Abdillah)as. Tentang firman Allah swt, 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab 56). 
Aba Abdillah as berkata,” Shalawat dari Allah swt kepada Nabi adalah rahmat-Nya, dari malaikat adalah pensuciannya, dan dari manusia adalah doanya.” 
Adapun firman Allah swt wasallimû taslîmâ, yakni ucapkanlah salam kepadanya, kemudian mereka bertanya kepadanya, ”Bagaimana kami mengucapkan shalawat kepada Nabi dan keluarganya?” Aba Abdillah berkata,” Katakanlah: ‘Shalawâtullâhi wa shalawâtu malâ’ikatihî wa an biyâihî wa 
rasûlihî wa jamî’i khalqihî ’ala muhammadin wa âli muhammad wasallamu ‘alaihi wa âlihim wa rahmatulâh wa barakâtuh.’” Lalu ia berkata, ”Apa balasan orang yang membacakan shalawat kepada Nabi saw?”, 
“Dikeluarkan dari dosa-dosanya, demi Allah sama seperti ketika ibunya melahirkan dia.” 
Imam Ja’far Al-Shadiq as, berkata, ”Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sepuluh kali, Allah akan mengirimkan rahmat dan para malaikat akan mengucapkan doa kepadanya seratus kali.” Dalam hadis lain Imam Ja’far Al-Shadiq berkata,” Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya seratus kali, Allah akan kiirimkan kesejahteraan kepadanya, para malaikat akan mendoakannya seribu kali. Bukankah kamu mendengar perintah Allah swt, ”Ialah Allah yang mengirimkan rahmat-Nya kepada kamu dan para malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan dia sangat penyayang kepada kaum mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 43). 
Masih dari Imam Ja’far as, ”Semua do'a yang dibacakan orang untuk menyeru Allah swt tertutup dari langit, sampai dia membaca shalawat kepada Muhammmad dan keluarganya.” “Nanti pada hari kiamat, tidak ada yang lebih berat dalam timbangan selain shalawat kepada Muhammad dan 
keluarganya.” 
Imam Ali Ridha as, berkata, ”Barangsiapa yang tidak mampu menghapuskan seluruh dosanya, perbanyaklah bacaan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena itu akan menghapuskan dosa.” “Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi saw pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.” 
Itulah buah membaca shalawat. Shalawat adalah ungkapan kecintaan kita 
kepada Rasulullah dan keluarganya. Kalau orang banyak membaca shalawat, insya Allah, kecintaan kepada Rasulullah akan bertambah. 
Bagi seorang intelektual, hal ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan: Mengapa? Tapi, buat orang-orang "bodoh", believing is seeing. Shalawat itu membawa kecintaan kepada Rasulullah. Mereka tidak memikir-mikirkan lagi, kerinduannya bangkit di dalam shalawat-shalawat itu dan terasa pada diri mereka. Tetapi bagi orang-orang intelektual tidak; bagi mereka seeing is believing. 
Dalam teori komunikasi, ada teori yang disebut dengan mere-exposure theory; teori semata-mata terpaan saja.
Suatu saat kepada mahasiswa diperlihatkan beberapa transparansi foto. Ada beberapa foto yang sering tampak pada saat itu, dan ada beberapa foto yang jarang tampak. 
Foto itu ada yang ditampakkan sepuluh kali, delapan kali, dan lima kali. Setelah itu kepada mahasiswa diberikan seluruh foto yang tadi diperlihatkan di layar. Ada hal yang menarik dalam kejadiaan itu; mereka diperintah untuk memilih foto mana yang paling mereka sukai. 
Ternyata mereka menyukai foto yang paling sering muncul.; bukan karena apa-apa, hanya karena sering muncul saja, mere-exposure. Hal ini bisa dianalogikan, jika ada orang yang sering muncul dihadapan kita, lama-kelamaan kita akan menyukai orang tersebut. 
Dengan seringnya kita membaca shalawat, kita selalu menghadirkan namaRasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya akan tumbuh dengan sendirinya kecintaan kepada orang-orang yang sering kita sebut. Dan hal ini termasuk juga ke dalam teknik iklan atau propaganda. Agar orang itu suka akan sesuatu, lakukanlah iklan itu berkali-kali (diulang-ulang). Sampai-sampai Hitler berkata, ”Kebohongan pun akan dipercaya menjadi keimanan kalau kita mengulanginya terus menerus. 
Wehreit, "kebenaran itu adalah kebohongan dikalikan seribu.” 
Kalau kebohongan saja bisa menjadi kebenaran, apa lagi kata-kata suci seperti shalawat yang sering kita bacakan. Shalawat, insya Allah akan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Lewat kecintaan itulah 
insya Allah kita akan meniru perilaku orang yang kita cintai. 
Kecintaan kita kepada keluarga Rasulullah saw, merupakan ungkapan cinta kepada Rasulullah juga. Al-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasyaf, 
menulis, ”Rasulullah saw. bersabda: ’Barangsiapa yang mati dengan kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia mati syahid. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, 
dia mati dengan ampunan-Nya. Ketahuilah barangsiapa yang mati dalam kecintaan kepada keluarga Nabi saw, dia mati sebagai orang mukmin yang sempurna imannya. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa
kecintaan kepada keluarga Nabi saw, dia mati dalam keadaan Malaikat Maut akan menggembirakannya dengan surga, kemudian Munkar dan Nakir akan menghiburnya. 
"Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia akan diiringkan masuk ke surga seperti diiringkannya pengantin ke rumah suaminya. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, Allah akan bukakan pintu surga pada kuburannya. Ketahuilah, 
barangsiapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, Allah akan jadikan kuburannya tempat berkunjung Malaikat Rahmat. Ketahuilah, barangsiapa yang mati dengan membawa 
kecintaan kepada keluarga Muhammad, dia mati sebagai ahlus sunnah wal jama’ah.” 
“Siapa yang mati dalam kebencian kepada keluarga Muhammad saw, dia akan datang pada hari kiamat dengan tulisan diantara kedua matanya; 
"Inilah orang yang putus asa dari rahmat Allah". 
Wallahu a'lam bishawwab 

Rabu, 22 Juli 2015

Wasiat awal Syawal 1436H

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. Al-Najm [53]: 32)
Demikian pula sesuai dengan sabda Nabi, “Siapa yang mengkafirkan seorang mukmin, maka sungguh dia sendiri sudah kafir.”
Dalam menghadapi kesalahfahaman yang mungkin timbul dengan non-Muslim saja, Islam menyuruh kita untuk ber-jidal (baca: dialog) dengan cara terbaik seperti dalam ayat berikut:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

Jumat, 03 Juli 2015

Hanya...............

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Wa iyyaka nasta’in artinya “kepadaMu kami memohon pertolongan sebelumnya kita mengatakan, “kepadaMu kami menyembah.” Mengapa kita memohon pertolongan setelah kita beribadah? Bukankah sebaiknya kita memohon pertolongan dulu sebelum melakukan ibadah? 
Seolah-olah orang yang shalat itu berkata, “aku memulai ibadah ini, dan aku memohon pertolongan kepada Allah untuk menyempurnakan ibadahku. Sehingga kesempurnaan ibadah itu tidak terganggu karena kematian, sakit atau karena hati yang lalai.” Kami beribadah, dan kami memohon  kepadaMu agar menyempurnakan ibadah kami, sehingga kesempurnaan ibadah kami tidak terganggu. Karena itu, setelah iyyaka nasta’in.
Seakan-akan ketika manusia mengatakan iyyaka na’budu , dalam hatinya ia berkata, “Tuhanku, aku datang kepadaMu dengan membawa hati yang tidak ikut bersamaku; aku datang kepadamu, tapi hatiku lari darimu. Maka aku memohon kepadaMu agar Engkau menghadirkan hatiku dalam ibadah ini. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa hati seorang mukmin terletak di antara jari jemari Tuhan (maksudnya, bahwa hati manusia itu mudah sekali berubah dan hanya Tuhanlah yang bisa meneguhkan hati). Karena itu kita berkata, "aku beribadah kepadaMu, ya Allah, dan aku memohon tolong agar Engkau menghadirkan hati kami dalam ibadah kami. Bukankah hati kami terletak di antara jari jemariMu." Aku tidak memohonkan pertolongan kepada selainMu. Tidak kepada Jibril alaihi salaam, tidak kepada Mikail alaihi salaam. Aku hanya meminta pertolongan kepadaMu saja. Dalam hal ini aku mengikuti mazhab Ibrahim alaihi salaam. Ketika beliau akan dilemparkan ke dalam api, Namruz mengikat kedua kaki dan tanganya, lalu melemparkanya ke dalam api. Jibril as. datang dan berkata, “apakah engkau memerlukan bantuanku?” Ibrahim menjawab, “aku tidak memerlukan bantuanmu. Cukuplah bagiku untuk tidak menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Karena aku tahu bahwa Tuhan mengetahui keadaanku.” Tapi sebagai pengikut Nabi Ibrahim alaihi salaam, kita menambah kalimat lagi pada ucapan beliau itu. Kalau beliau diikat kedua kaki dan tanganya oleh Namruz, maka dalam shalat kita, kita mengikat kaki kita sehingga kita tidak berjalan; mengikat mata kita sehingga kita tidak "melihat" ; mengikat telinga kita sehingga kita tidak "mendengar" dan mengikat lidah kita sehingga kita tidak berbicara. Semuanya kita hadapkan kepada Allah Jallajalaaluh. Dengan suka rela. Ibrahim alaihi salaam diikat dengan terpaksa oleh Namruz, kita mengikat diri kita dalam shalat secara suka rela dan hanya tunduk kepada Allah Jallajalaaluh. Kalau Ibrahim alaihi salaam dihadapkan ke api Namruz, kita dihadapkan ke api Jahannam. Kalau Ibrahim alaihi salaam tidak ridha menerima bantuan selain dari Tuhan, maka kita pun tidak ridha meminta bantuan kepada siapa pun kecuali kepada Allah Jallajalaaluh saja. Sebagaimana Allah berkata kepada api yang membakar Ibrahim, “ya naru kuni bardan wa salaaman alaa Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’,21;69), kita juga berharap agar Allah berkata kepada api Jahannam sehingga neraka itu berkata, “lewatlah hai orang beriman. Cahayamu telah mematikan nyala apiku.”
Iyyaka nasta’in, artinya “aku tidak meminta tolong selain kepadaMu, karena selainMu tidak akan sanggup memberikan pertolongan kepadaku. Kalaupun ada orang yang menolongku, pertolonganya itu juga karena pertolonganMu.” Kalau ada orang yang membela kita, itu sebetulnya karena pertolongan Allah Jallajalaaluh wa Ta'ala Adzhamatuh.
Ketika kita mengucapkan iyyaka na’budu, boleh jadi dalam hati kita telah terbit satu perasaan bahwa kita sudah mampu beribadah kepada Allah Subhana wa Ta'ala, orang menyebutnya ‘ujub, merasa bangga karena kita sudah beribadah kepada Allah Jallajalaaluh. Kita lupa bahwa ibadah kita terjadi karena bantuan Allah. Oleh sebab itu, setelah mengatakan iyyaka na’budu, buru-burulah mengatakan iyyaka nasta’in, kepadaMu lah kami meminta pertolongan, dengan begitu, kita menghilangkan 'ujub dari dalam hati kita.
Wallahu 'alam.